Selasa, 22 November 2011

ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS



KEPERAWATAN KELUARGA
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. “D” DENGAN DIABETES MELITUS

A.    DEFINISI
            Diabetes Mellitus adalah keadaan hiperglikemi kronik yang disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah (Mansjoer dkk,1999). Sedangkan menurut Francis dan John (2000), Diabetes Mellitus klinis adalah suatu sindroma gangguan metabolisme dengan hiperglikemia yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya.


            Klasifikasi Diabetes Mellitus dari National Diabetus Data Group: Classification and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Other Categories of Glucosa Intolerance:
1.      Klasifikasi Klinis
a.       Diabetes Mellitus
1)      Tipe tergantung insulin (DMTI), Tipe I
2)      Tipe tak tergantung insulin (DMTTI), Tipe II (DMTTI yang tidak mengalami obesitas , dan DMTTI dengan obesitas)
b.      Gangguan Toleransi Glukosa (GTG)
c.       Diabetes Kehamilan (GDM)
2.      Klasifikasi risiko statistik
a.       Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa
b.      Berpotensi menderita kelainan toleransi glukosa

      Pada Diabetes Mellitus tipe 1 sel-sel β pancreas yang secara normal menghasilkan hormon insulin dihancurkan oleh proses autoimun, sebagai akibatnya penyuntikan insulin diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Diabetes mellitus tipe I ditandai oleh awitan mendadak yang biasanya terjadi pada usia 30 tahun. Diabetes mellitus tipe II terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat  penurunan jumlah produksi insulin.

B.     ETIOLOGI
1.      Diabetes Mellitus tergantung insulin (DMTI)
a.       Faktor genetic :
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya.
b.      Faktor imunologi :
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.
c.       Faktor lingkungan
Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas.
2.      Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI)
Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat. DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselluler yang meningkatkan transport glukosa menembus membran sel. Pada pasien dengan DMTTI terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel. Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin dengan system transport glukosa. Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia (Price,1995). Diabetes Mellitus tipe II disebut juga Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin (DMTTI) atau Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) yang merupakan suatu kelompok heterogen bentuk-bentuk Diabetes yang lebih ringan, terutama dijumpai pada orang dewasa, tetapi terkadang dapat timbul pada masa kanak-kanak.
Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya adalah:
a.       Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun)
b.      Obesitas
c.       Riwayat keluarga
d.      Kelompok etnik

C.    MANIFESTASI KLINIS
Menurut Askandar (1998) seseorang dapat dikatakan menderita Diabetes Mellitus apabila menderita dua dari tiga gejala yaitu:
1.      Keluhan TRIAS: Banyak minum, Banyak kencing dan Penurunan berat badan.
2.      Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl
3.      Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl

Sedangkan menurut Waspadji (1996) keluhan yang sering terjadi pada penderita Diabetes Mellitus adalah: Poliuria, Polidipsia, Polifagia, Berat badan menurun, Lemah, Kesemutan, Gatal, Visus menurun, Bisul/luka, Keputihan.

D.    PATOFISIOLOGI
            Ibarat suatu mesin, tubuh memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. Disamping itu tubuh juga memerlukan energi supaya sel tubuh dapat berfungsi dengan baik. Energi yang dibutuhkan oleh tubuh berasal dari bahan makanan yang kita makan setiap hari. Bahan makanan tersebut terdiri dari unsur karbohidrat, lemak dan protein (Suyono,1999). 
            Pada keadaan normal kurang lebih 50% glukosa yang dimakan mengalami metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air, 10% menjadi glikogen dan 20% sampai 40% diubah menjadi lemak. Pada Diabetes Mellitus semua proses tersebut terganggu karena terdapat defisiensi insulin. Penyerapan glukosa kedalam sel macet dan metabolismenya terganggu. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar glukosa tetap berada dalam sirkulasi darah sehingga terjadi hiperglikemia.
            Penyakit Diabetes Mellitus disebabkan oleh karena gagalnya hormon insulin. Akibat kekurangan insulin maka glukosa tidak dapat diubah menjadi glikogen sehingga kadar gula darah meningkat dan terjadi hiperglikemi. Ginjal tidak dapat menahan hiperglikemi ini, karena ambang batas untuk gula darah adalah 180 mg% sehingga apabila terjadi hiperglikemi maka ginjal tidak bisa menyaring dan mengabsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Sehubungan dengan sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria. Bersamaan keadaan glukosuria maka sejumlah air hilang dalam urine yang disebut poliuria. Poliuria mengakibatkan dehidrasi intra selluler, hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien akan merasakan haus terus menerus sehingga pasien akan minum terus yang disebut polidipsi.
            Produksi insulin yang kurang akan menyebabkan menurunnya transport glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan karbohidrat, lemak dan protein menjadi menipis. Karena digunakan untuk melakukan pembakaran dalam tubuh, maka klien akan merasa lapar sehingga menyebabkan banyak makan yang disebut poliphagia. Terlalu banyak lemak yang dibakar maka akan terjadi penumpukan asetat dalam darah yang menyebabkan keasaman darah meningkat atau asidosis. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu banyak hingga tubuh berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernapasan, akibatnya bau urine dan napas penderita berbau aseton atau bau buah-buahan. Keadaan asidosis ini apabila tidak segera diobati akan terjadi koma yang disebut koma diabetik (Price,1995).



PATHWAY

      DM Tipe I                                                                                          DM Tipe II
Jmh sel β pancreas menurun
sel β pancreas hancur
Defisiensi insulin
Katabolisme protein meningkat
Lipolisis meningkat
Hiperglikemia
Idiopatik, usia, genetil, dll
Reaksi Autoimun
 













=
coma
Glukosuria
Diuresis Osmotik
Penurunan BB polipagi
Glukoneogenesis meningkat
Kehilangan elektrolit urine
Gliserol asam lemak bebas meningkat
Ketogenesis
Kehilangan cairan hipotonik
Hiperosmolaritas
Polidipsi
ketoasidosis
ketonuria
 

























E.     DATA PENUNJANG
1.      Glukosa darah: gula darah puasa > 130 ml/dl, tes toleransi glukosa > 200 mg/dl, 2 jam setelah pemberian glukosa.
2.      Aseton plasma (keton) positif secara mencolok.
3.      Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol meningkat
4.      Osmolalitas serum: meningkat tapi biasanya < 330 mOsm/I
5.      Elektrolit: Na mungkin normal, meningkat atau menurun, K normal atau peningkatan semu selanjutnya akan menurun, fosfor sering menurun.
6.      Gas darah arteri: menunjukkan Ph rendah dan penurunan HCO3
7.      Trombosit darah: Ht meningkat (dehidrasi), leukositosis dan hemokonsentrasi merupakan respon terhadap stress atau infeksi.
8.      Ureum/kreatinin: mungkin meningkat atau normal
9.      Insulin darh: mungkin menurun/tidak ada (Tipe I) atau normal sampai tinggi (Tipe II)
10.  Urine: gula dan aseton positif
11.  Kultur dan sensitivitas: kemungkinan adanya ISK, infeksi pernafasan dan infeksi luka.





RENCANA KEPERAWATAN
No
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
Rasional
1
Nyeri akut
Setelah dilakukan askep selama 3 x 24 jam tingkat kenyamanan klien meningkat, dan dibuktikan dengan level nyeri: klien dapat melaporkan nyeri pada petugas, frekuensi nyeri, ekspresi wajah,  dan menyatakan kenyamanan fisik dan psikologis, TD 120/80 mmHg, N: 60-100 x/mnt, RR: 16-20x/mnt
Control nyeri  dibuktikan dengan klien melaporkan gejala nyeri dan control nyeri.
Manajemen nyeri :
1.    Lakukan pegkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan ontro presipitasi.
2.    Observasi  reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
3.    Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya.
4.    Kontrol ontro lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan.
5.    Kurangi ontro presipitasi nyeri.
6.    Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/non farmakologis)..
7.    Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk mengetasi nyeri..
8.    Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
9.    Evaluasi tindakan pengurang nyeri/ontrol nyeri.
10.Kolaborasi dengan dokter bila ada komplain tentang pemberian analgetik tidak berhasil.
11.Monitor penerimaan klien tentang manajemen nyeri.

Administrasi analgetik :.
1.    Cek program pemberian analogetik; jenis, dosis, dan frekuensi.
2.    Cek riwayat alergi..
3.    Tentukan analgetik pilihan, rute pemberian dan dosis optimal.
4.    Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian analgetik.
5.    Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul.
6.    Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping.
·   Respon nyeri sangat individual sehingga penangananyapun berbeda untuk masing-masing individu.
·   Komunikasi yang terapetik mampu meningkatkan rasa percaya klien terhadap perawat sehingga dapat lebih kooperatif dalam program manajemen nyeri.
·   Lingkungan yang nyaman dapat membantu klien untuk mereduksi nyeri.
·   Pengalihan nyeri dengan relaksasi dan distraksi dapat mengurangi nyeri yang sedang timbul.
·   Pemberian analgetik yang tepat dapat membantu klien untuk beradaptasi dan mengatasi nyeri.







·   Tindakan evaluatif terhadap penanganan nyeri dapat dijadikan rujukan untuk penanganan nyeri yang mungkin muncul berikutnya atau yang sedang berlangsung.


2
PK : Infeksi
Setelah dilakukan askep selama 5 x 24 jam perawat akan menangani / mengurangi komplikasi defsiensi imun  
1.    Pantau tanda dan gejala infeksi primer & sekunder
2.    Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.
3.    Batasi pengunjung bila perlu.
4.    Intruksikan kepada keluarga untuk mencuci tangan saat kontak dan sesudahnya.
5.    Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci tangan.
6.    Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.
7.    Gunakan baju dan sarung tangan sebagai alat pelindung.
8.    Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan.
9.    Lakukan perawatan luka dan dresing infus setiap hari.
10.Amati keadaan luka dan sekitarnya dari tanda – tanda meluasnya infeksi
11.Tingkatkan intake nutrisi.dan cairan
12.Berikan antibiotik sesuai program.
13.Monitor hitung granulosit dan WBC.
14.Ambil kultur jika perlu dan laporkan bila hasilnya positip.
15.Dorong istirahat yang cukup.
16.Dorong peningkatan mobilitas dan latihan.
17.Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan gejala infeksi.
·    Penularan infeksi dapat melalui pengunjung yang mempunyai penyekit menular.
·    Tindakan antiseptik dapat mengurangi pemaparan klien dari sumber infeksi
·    Pengunaan alat pengaman dapat melindungi klien dan petugas dari tertularnya penyakit infeksi.
·    Perawatan luka setiap hari dapat mengurangi terjadinya infeksi serta dapat untuk mengevaluasi kondisi luka.
·    Penemuan secara dini tanda-tanda infeksi dapat mempercepat penanganan yang diperlukan sehingga klien dapat segera terhindar dari resiko infeksi atau terjadinya infeksi dapat dibatasi.
·    Pengguanan teknik aseptik dan isolasi klien dapat mengurangi pemaparan dan penyebaran infeksi.
·    Satus nutrisi yang adekuat, istirahat yang cukup serta mobilisasi dan latihan yang teratur dapat meningkatkan percepatan proses penyembuhan luka.
·   Hasil kultur positif menunjukan telah terjadi infeksi.

3
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Setelah dilakukan askep selama 3x24 jam klien menunjukan status nutrisi adekuat dibuktikan dengan BB stabil tidak terjadi mal nutrisi, tingkat energi adekuat, masukan nutrisi adekuat
Manajemen Nutrisi
1.   kaji pola makan klien
2.   Kaji adanya alergi makanan.
3.   Kaji makanan yang disukai oleh klien.
4.   Kolaborasi dg ahli gizi untuk penyediaan nutrisi terpilih sesuai dengan kebutuhan klien.
5.   Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisinya.
6.   Yakinkan diet yang dikonsumsi mengandung cukup serat untuk mencegah konstipasi.
7.   Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi dan pentingnya bagi tubuh klien.
Monitor Nutrisi
1.   Monitor BB setiap hari jika memungkinkan.
2.   Monitor respon klien terhadap situasi yang mengharuskan klien makan.
3.   Monitor lingkungan selama makan.
4.   Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak bersamaan dengan waktu klien makan.
5.   Monitor adanya mual muntah.
6.   Monitor adanya gangguan dalam proses mastikasi/input makanan misalnya perdarahan, bengkak dsb.
7.   Monitor intake nutrisi dan kalori.
Manajemen nutrisi dan monitor nutrisi yang adekuat dapat membantu klien mendapatkan nutrisi sesuai dengan kebutuha tubuhnya.
4
PK: Hipo / Hiperglikemi
Setelah dilakukan askep 3x24 jam diharapkan perawat akan menangani dan meminimalkan episode hipo / hiperglikemia.
Managemen Hipoglikemia:
1.       Monitor tingkat gula darah sesuai indikasi
2.       Monitor tanda dan gejala hipoglikemi ; kadar gula darah < 70 mg/dl, kulit dingin, lembab pucat, tachikardi, peka rangsang, gelisah, tidak sadar , bingung, ngantuk.
3.       Jika klien dapat menelan berikan jus jeruk / sejenis jahe setiap 15 menit sampai kadar gula darah > 69 mg/dl
4.       Berikan glukosa 50 % dalam IV sesuai protokol
5.       K/P kolaborasi dengan ahli gizi untuk dietnya.

Managemen Hiperglikemia
1.       Monitor GDR sesuai indikasi
2.       Monitor tanda dan gejala diabetik ketoasidosis ; gula darah > 300 mg/dl, pernafasan bau aseton, sakit kepala, pernafasan kusmaul, anoreksia, mual dan muntah, tachikardi, TD rendah, polyuria, polidypsia,poliphagia, keletihan, pandangan kabur atau kadar Na,K,Po4 menurun.
3.       Monitor v/s :TD dan nadi sesuai indikasi
4.       Berikan insulin sesuai order
5.       Pertahankan akses IV
6.       Berikan IV fluids sesuai kebutuhan
7.       Konsultasi dengan dokter jika tanda dan gejala Hiperglikemia menetap atau memburuk
8.       Dampingi/ Bantu ambulasi jika terjadi hipotensi
9.       Batasi latihan ketika gula darah >250 mg/dl khususnya adanya keton pada urine
10.    Pantau jantung dan sirkulasi ( frekuensi & irama, warna kulit, waktu pengisian kapiler, nadi perifer dan kalium
11.    Anjurkan banyak minum
12.    Monitor status cairan I/O sesuai kebutuhan
Hipoglikemia dapat disebabkan oleh insulin yang berlebian, pemasukan makanan yg tidak adekuat, aktivitas fisik yang berlebiha, Hipoglikemia akan merangsang SS simpatis u/ mengeluarkan adrenalin, klien menjadi berkeringat, akral dingin, gelisah dan tachikardi.







Hiperglikemia dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya: terlalu banyak makan / kurang makan, terlalu sedikit insulin, dan kurang aktivitas.
4
Kerusakan integritas jaringan
Setelah dilakukan askep 6x24 jam Wound healing meningkat:
Dengan criteria
Luka mengecil dalam ukuran dan peningkatan granulasi jaringan
Wound care
1.       Catat karakteristik luka:tentukan ukuran dan kedalaman luka, dan klasifikasi pengaruh ulcers
2.       Catat karakteristik cairan secret yang keluar
3.       Bersihkan dengan cairan anti bakteri
4.       Bilas dengan cairan NaCl 0,9%
5.       Lakukan nekrotomi K/P
6.       Lakukan tampon yang sesuai
7.       Dressing dengan kasa steril sesuai kebutuhan
8.       Lakukan pembalutan
9.       Pertahankan tehnik dressing steril ketika melakukan perawatan luka
10.    Amati setiap perubahan pada balutan
11.    Bandingkan dan catat setiap adanya perubahan pada luka
12.    Berikan posisi terhindar dari tekanan
Pengkajian luka akan lebih
realible dilakukan oleh pemberi asuhan yang sama dengan posisi yang sama dan tehnik yang sama
5
Kerusakan mobilitas fisik
Setelah dilakukan Askep 6x24 jam dapat teridentifikasi Mobility level
Joint movement: aktif.
Self care:ADLs
Dengan criteria hasil:
1. Aktivitas fisik meningkat
2. ROM normal
3. Melaporkan perasaan peningkatan kekuatan kemampuan dalam bergerak
4. Klien bisa melakukan aktivitas
5. Kebersihan diri klien terpenuhi walaupun dibantu oleh perawat atau keluarga
Terapi Exercise : Pergerakan sendi
1.       Pastikan keterbatasan gerak sendi yang dialami
2.        Kolaborasi dengan fisioterapi
3.       Pastikan motivasi klien untuk mempertahankan pergerakan sendi
4.       Pastikan klien untuk mempertahankan pergerakan sendi
5.       Pastikan klien bebas dari nyeri sebelum diberikan latihan
6.       Anjurkan ROM Exercise aktif: jadual; keteraturan, Latih ROM pasif.
Exercise promotion
1.       Bantu identifikasi  program latihan yang sesuai
2.       Diskusikan dan instruksikan pada klien mengenai latihan yang tepat
Exercise terapi ambulasi
1.       Anjurkan dan Bantu klien duduk di tempat tidur sesuai toleransi
2.       Atur posisi setiap 2 jam atau sesuai toleransi
3.       Fasilitasi penggunaan alat Bantu

Self care assistance:
Bathing/hygiene, dressing, feeding and toileting.
1.       Dorong keluarga untuk berpartisipasi untuk kegiatan mandi dan kebersihan diri, berpakaian, makan dan toileting klien
2.       Berikan bantuan kebutuhan sehari – hari sampai klien dapat merawat secara mandiri
3.       Monitor kebersihan kuku, kulit, berpakaian , dietnya dan pola eliminasinya.
4.       Monitor kemampuan perawatan diri klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari
5.       Dorong klien melakukan aktivitas normal keseharian sesuai kemampuan
6.       Promosi aktivitas sesuai usia

ROM exercise membantu mempertahankan mobilitas sendi, meningkatkan sirkulasi, mencegah kontraktur, meningkatkan kenyamanan.









Pengetahuan yang cukup akan memotivasi klien untuk melakukan latihan.


Meningkatkan dan membantu berjalan/ ambulasi atau memperbaiki otonomi dan fungsi tubuh dari injuri








Memfasilitasi pasien dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri untuk dapat membantu klien hingga klien dapat mandiri melakukannya.

6
Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatan nya
Setelah dilakukan askep selama 3x24 jam, pengetahuan klien meningkat.
Knowledge : Illness Care dg kriteria :
1   Tahu Diitnya
2   Proses penyakit
3   Konservasi energi
4   Kontrol infeksi
5   Pengobatan
6   Aktivitas yang dianjurkan
7   Prosedur pengobatan
8   Regimen/aturan pengobatan
9   Sumber-sumber kesehatan
10                     Manajemen penyakit


Teaching : Dissease Process
1.       Kaji  tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang proses penyakit
2.       Jelaskan tentang patofisiologi penyakit, tanda dan gejala serta penyebab yang mungkin
3.       Sediakan informasi tentang kondisi klien
4.       Siapkan keluarga atau orang-orang yang berarti dengan informasi tentang perkembangan klien
5.       Sediakan informasi tentang diagnosa klien
6.       Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau kontrol proses penyakit
7.       Diskusikan tentang pilihan tentang terapi atau pengobatan
8.       Jelaskan alasan dilaksanakannya tindakan atau terapi
9.       Dorong klien untuk menggali pilihan-pilihan atau memperoleh alternatif pilihan
10.    Gambarkan komplikasi yang mungkin terjadi
11.    Anjurkan klien untuk mencegah efek samping dari penyakit
12.    Gali sumber-sumber atau dukungan yang ada
13.    Anjurkan klien untuk melaporkan tanda dan gejala yang muncul pada petugas kesehatan
14. kolaborasi dg  tim yang lain.

Dengan pengetahuan yang cukup maka keluarga mampu mengambil peranan yang positif dalam program pembelajaran tentang proses penyakit dan perawatan serta program pengobatan.

7
Defisit self care
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 jam klien mampu Perawatan diri
Self care :Activity Daly Living (ADL) dengan indicator :
·   Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari (makan, berpakaian, kebersihan, toileting, ambulasi)
·   Kebersihan diri pasien terpenuhi


Bantuan perawatan diri
1.  Monitor kemampuan pasien terhadap perawatan diri
2.  Monitor kebutuhan akan personal hygiene, berpakaian, toileting dan makan
3.  Beri bantuan sampai klien mempunyai kemapuan untuk merawat diri
4.  Bantu klien dalam memenuhi kebutuhannya.
5.  Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuannya
6.  Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin
7.  Evaluasi kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
8.  Berikan reinforcement atas usaha yang dilakukan dalam melakukan perawatan diri sehari hari.
Bantuan perawatan diri dapat membantu klien dalam beraktivitas dan melatih pasien untuk beraktivitas kembali.




  

DAFTAR PUSTAKA

Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC. Jakarta
Carpenito, L.J., 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, edisi 2, Penerbit EGC, Jakarta.
Carpenito, L.J., 2000, Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi 6, Penerbit EGC, Jakarta.
Joanne C.Mc Closkey. 1996. Nursing intervention classification (NIC). Mosby year book. St. Louis
Marion Johnon,dkk. 2000. Nursing outcome classification (NOC). Mosby year book. St. Louis
Marjory godon,dkk. 2000. Nursing diagnoses: Definition & classification 2001-2002. NANDA
NANDA International, 2001, Nursing Diagnosis Classification 2005 – 2006, USA
www.medicastore.com, 2004, Informasi tentang penyakit : Diabetes Melitus.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar